DPR Temukan Praktik Rentenir Terhadap Jamaah Haji

Rabu, 23 Agustus 2017 | 12:39 WIB
Share Tweet Share

jemah

[JAKARTA]-- Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI menemukan praktik rentenir terhadap jemaah haji Indonesia. Praktek demikian terjadi saat jemaah menukarkan uang ke mata uang setempat.

“Kami kaget, selama ini terjadi praktik rentenir terhadap jemaah haji Indonesia yang ingin menukarkan dananya ke mata uang Riyal. Kasus itu terjadi di kloter 47 JKS saat jemaah ini ingin menukarkan uang Riyal ke pecahan 500," kata Wakil Ketua Komisi VIII Iskan Qolba Lubis yang melakukan Inspeksi Mendadak (Sidak) ke Makkah.

Siaram pers Pemberitaan DPR RI yang diterima Indonesiakoran.com, Rabu (23/8) menyebutkan, banyak kekurangan saat melakukan Sidak terhadap penyelenggaraan haji di sektor 5 Kota Makkah.

Dalam menukarkan ke pecahan 500 riyal saja, jemaah dikenakan potongan 80 riyal. Berarti kalau tiga pecahan akan terpotong 240 Riyal. Kalau yang ditukarkan jumlah yang cukup besar, tentu uang jemaah yang dipotong semakin besar.

Dikatakan, praktik rentenir juga terjadi di embarkasi lainnya seperti di embarkasi Medan. “Berdasarkan pengakuan jamaah haji kloter Medan, penukaran pecahan 500 hanya menerima 450 Riyal. Bahkan praktik semacam itu disinyalir atas sepengetahuan petugas di embarkasi tersebut.”

Politisi dari senior Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini mengatakan, praktik rentenir tidak diperbolehkan apalagi dalam penyelenggaraan haji, selain dilarang agama karena bersifat ribawi, juga menzalimi jemaah.

Menyikapi hal itu, Komisi VIII DPR RI akan meminta BI untuk menyiapkan pecahan 100 Riyal, sehingga memudahkan jemaah haji menukarkan uangnya. Komisi VIII juga meminta Kementerian Agama melakukan investigasi di semua embarkasi dan menindak pelaku.

Dikatakan, dalam sidak juga ditemukan kekurangan pelayanan seperti kasus sekitar 6.400 box makanan basi di Madinah. “Basinya makanan jemaah haji dalam jumlah banyak menandakan lemahnya pengawasan sehingga mudah basi.”

Tim juga menemukan rendahnya kualitas tas yang dibagikan kepada jamaah. Padahal tas merupakan identitas yang dilihat jamaah seluruh dunia.

“Jemaah dari Bandung mengeluh karena tas yang dibagikan kualitas rendah, sehingga cepat sobek. Padahal tas terpampang identitas jamaah, dan membuat dipertaruhkan martabatnya di tengah jamaah lain seluruh dunia,” demikian Iskan Qolba Lubis. [A3]

Editor: Akhir Tanjung

Tag:

Berita Terkait

Komentar