Rusia Niat Bangun PLTN di Indonesia

Kamis, 24 Agustus 2017 | 14:48 WIB
Share Tweet Share

pltn

[JAKARTA]-- Rusia berniat membangun Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Indonesia. Pembangunan bertujuan untuk pemerataan pasokan energi di Indonesia yang baru mencapai 89,5 persen.

Rusia berpendapat, kebutuhan listrik di Indonesia tidak bakal terpenuhi hanya dengan cara konvensional. Sebab itu Rusia menawarkan kepada Indonesia pembangkit listrik tenaga nuklir.

"Tawaran ini akan bergantung sepenuhnya kepada keputusan politik pemerintah Indonesia,” kata Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Mikhail Galuzin, kepada sejumlah awak media di Jakarta, pekan ini.

Galuzin menceritakan, Moskow sudah punya pengalaman banyak dalam membangun PLTN di berbagai negara. Tahun lalu misalnya, perusahaan negara milik negeri 'Beruang Merah' itu mulai membantu pembangunan PLTN di Iran.

Pembangunan PLTN ini menghabiskan anggaran sekitar 10 milyar dolar AS. Negara lain yang bekerja sama dengan Rusia untuk listrik tenaga nuklir di antaranya adalah Nigeria, Yordania, dan India.

Namun, dunia masih ingat tentang musibah reaktor nuklir Uni Soviet di Chernobyl 26 April 1986, yang saat kini bagian dari negara Ukraina. Ratusan ribu orang terdampak langsung radiasi nuklir yang juga merusak lingkungan hidup dalam skala waktu sangat panjang. Ini menjadi berita dunia dalam waktu panjang saat itu.

Mei lalu, perusahaan milik Rusia, Rosatom State Atomic Energy juga sempat menawarkan proposal serupa kepada Indonesia melalui Menteri Koordinator Kemaritiman, Luhut Pandjaitan.

Mereka sudah mengusulkan beberapa tempat pembangunan PLTN, dengan kapasitan lebih dari 1.000 MegaWatt, yang dinilai bebas dari bencana gempa, di antaranya Pulau Bangka dan Kalimantan Timur.

Energi nuklir masih menjadi perdebatan di Indonesia. Menurut laporan lembaga World Nuclear Association, Indonesia akan membutuhkan 450 milyar kWh pada 2026 mendatang dengan asumsi pertumbuhan permintaan industri sebesar 10,5 persen setiap tahunnya.

Sebagian besar kebutuhan itu kini masih disuplai pembangkit listrik Jawa-Bali, yang menggunakan bahan bakar minyak dan gas, dengan tingkat cadangan yang rendah sehingga listrik sering padam karena tidak mampu memenuhi tingginya permintaan.

Atas situasi itulah Rusia mengusulkan pembangunan PLTN yang tidak hanya menaikkan rasio eletrifikasi tetapi juga memastikan pasokan tetap bisa diandalkan. Tetapi di sisi lain, limbah dari PLTN yang sangat beracun dan tidak bisa diolah juga sering menjadi bahan pertimbangan para pengambil kebijakan.

Sampai saat ini, satu-satunya cara untuk membuang limbah nuklir adalah dengan menimbun sampah tersebut di bawah tanah. Namun mengingat Indonesia adalah negara di kawasan cincin api yang rawan gempa, metode itu sangat berpotensi membuat tempat penyimpanan limbah bocor dan meracuni air tanah.

Peristiwa kebocoran tersebut pernah terjadi di Jepang, negara yang dikenal berhasil mengembangkan teknologi tinggi, pada 2011 saat gempa berkekuatan 9,0 pada skala Richter membuat tempat penyimpanan limbah nuklir di Fukushima bocor. [A3]

Editor: Akhir Tanjung

Tag:

Berita Terkait

Komentar